Kamis, 17 Oktober 2013

Daun Wungu



Jumlah penderita diabetes di Indonesia terbilang sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat. Untuk itu, banyak bahan alami yang digunakan sebagai obat untuk mengobati penyakit mematikan tersebut.
Sebut saja kulit dan daging buah salak, biji alpukat, serta daun sirih merah yang telah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Sleman, Yogyakarta untuk menurunkan glukosa darah. Selain itu, tanaman memiliki fungsi dan komponen sama dengan daun sirih merah adalah daun wungu.
Di Kabupaten Indramayu, masyarakat sekitar hanya memanfaatkan daun wungu untuk mengobati diare. Padahal, khasiat tanaman bernama latin Graptophylum pictum L. Griff itu terbukti ampuh menangkal diabetes.
Hasil ini diperoleh berkat penelitian sekelompok mahasiswa Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) program keahlian Analisis Kimia. Daun wungu mudah ditemukan karena merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, kebun kosong, pagar atau ditanam sebagai tanaman hias pekarangan.
Tanaman asal Papua dan Polinesia ini tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 100 sampai 2.300 m di atas permukaan laut dan berbunga sepanjang Juli-September. Tidak hanya itu, daun wungu dapat tumbuh dengan baik pada tempat terbuka yeng terkena sinar matahari, ataupun pada iklim kering atau lembab.
"Dasar yang dapat kami gunakan tidak hanya itu, tetapi juga dilihat dari silsilah daun wungu yang termasuk dalam famili Acanthaceae. Famili Acanthaceae secara signifikan dapat memperbaiki toleransi glukosa dalam tubuh manusia dan pasien diabetes," ungkap salah seorang anggota tim peneliti, Aziz Nuraditya, seperti dilansir Okezone.
Dalam tubuh manusia, kata Aziz, enzim a-glukosidase membantu memecah rantai polisakarida di setiap titik percabangan yang tidak dapat dipecahkan oleh enzim amilase. Aktivitas enzim ini menghasilkan polimer tidak bercabang dan satu glukosa.
"Senyawa ini memperlambat pencernaan pati dalam usus halus, sehingga glukosa dari pati dan makanan memasuki aliran darah lebih lambat, dan dapat disesuaikan lebih efektif oleh suatu gangguan respon atau sensitivitas insulin. Bila kerja enzim itu dihambat, proses konversi karbohidrat menjadi glukosa bisa ditekan," tuturnya.
Bersama empat rekannya, yakni Badrunanto, Debby Sinthya D, Marwan Ghozali, dan Marnatal Simanulang, Aziz melakukan penelitian di laboratorium Terpadu Diploma IPB. Di bawah bimbingan Dosen Departemen Biokimia IPB Dimas Andrianto, penelitian ini bertujuan menemukan formula yang tepat terhadap daun Wungu untuk menginhibisi (menghambat) kerja enzim a-glukosidase.
Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan terbukti jika daun wungu memiliki daya pencegahan (inhibisi) lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan dengan tanaman lain, seperti salak dan daun sirih merah. Daun Wungu yang diekstrak dengan etanol 96 persen, lanjutnya, berhasil menghambat kerja enzim sebesar 71,97 persen.
"Daya inhibisi daun Wungu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tumbuhan lain. Buah salak yang mempunyai daya inhibisi sebesar 13,18 persen terhadap enzim a-glukosidase dan daun sirih merah yang memiliki daya inhibisi sebesar 39,62 persen. Maka dapat dikatakan secara in vitro, daun Wungu mampu menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, penyebab diabetes," ujar Aziz. (as)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar