Kamis, 17 Oktober 2013

Daun Wungu



Jumlah penderita diabetes di Indonesia terbilang sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat. Untuk itu, banyak bahan alami yang digunakan sebagai obat untuk mengobati penyakit mematikan tersebut.
Sebut saja kulit dan daging buah salak, biji alpukat, serta daun sirih merah yang telah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Sleman, Yogyakarta untuk menurunkan glukosa darah. Selain itu, tanaman memiliki fungsi dan komponen sama dengan daun sirih merah adalah daun wungu.
Di Kabupaten Indramayu, masyarakat sekitar hanya memanfaatkan daun wungu untuk mengobati diare. Padahal, khasiat tanaman bernama latin Graptophylum pictum L. Griff itu terbukti ampuh menangkal diabetes.
Hasil ini diperoleh berkat penelitian sekelompok mahasiswa Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) program keahlian Analisis Kimia. Daun wungu mudah ditemukan karena merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, kebun kosong, pagar atau ditanam sebagai tanaman hias pekarangan.
Tanaman asal Papua dan Polinesia ini tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 100 sampai 2.300 m di atas permukaan laut dan berbunga sepanjang Juli-September. Tidak hanya itu, daun wungu dapat tumbuh dengan baik pada tempat terbuka yeng terkena sinar matahari, ataupun pada iklim kering atau lembab.
"Dasar yang dapat kami gunakan tidak hanya itu, tetapi juga dilihat dari silsilah daun wungu yang termasuk dalam famili Acanthaceae. Famili Acanthaceae secara signifikan dapat memperbaiki toleransi glukosa dalam tubuh manusia dan pasien diabetes," ungkap salah seorang anggota tim peneliti, Aziz Nuraditya, seperti dilansir Okezone.
Dalam tubuh manusia, kata Aziz, enzim a-glukosidase membantu memecah rantai polisakarida di setiap titik percabangan yang tidak dapat dipecahkan oleh enzim amilase. Aktivitas enzim ini menghasilkan polimer tidak bercabang dan satu glukosa.
"Senyawa ini memperlambat pencernaan pati dalam usus halus, sehingga glukosa dari pati dan makanan memasuki aliran darah lebih lambat, dan dapat disesuaikan lebih efektif oleh suatu gangguan respon atau sensitivitas insulin. Bila kerja enzim itu dihambat, proses konversi karbohidrat menjadi glukosa bisa ditekan," tuturnya.
Bersama empat rekannya, yakni Badrunanto, Debby Sinthya D, Marwan Ghozali, dan Marnatal Simanulang, Aziz melakukan penelitian di laboratorium Terpadu Diploma IPB. Di bawah bimbingan Dosen Departemen Biokimia IPB Dimas Andrianto, penelitian ini bertujuan menemukan formula yang tepat terhadap daun Wungu untuk menginhibisi (menghambat) kerja enzim a-glukosidase.
Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan terbukti jika daun wungu memiliki daya pencegahan (inhibisi) lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan dengan tanaman lain, seperti salak dan daun sirih merah. Daun Wungu yang diekstrak dengan etanol 96 persen, lanjutnya, berhasil menghambat kerja enzim sebesar 71,97 persen.
"Daya inhibisi daun Wungu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tumbuhan lain. Buah salak yang mempunyai daya inhibisi sebesar 13,18 persen terhadap enzim a-glukosidase dan daun sirih merah yang memiliki daya inhibisi sebesar 39,62 persen. Maka dapat dikatakan secara in vitro, daun Wungu mampu menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, penyebab diabetes," ujar Aziz. (as)

Jumat, 11 Oktober 2013

BENGKOANG


Bengkoang merupakan salah satu buah yang cukup banyak sekali diminati untuk dikonsumsi, terutama bagi masyarakat Indonesia. Mengapa demikian? Bengkoang merupakan salah satu buah yang bisa kita dapatkan dengan mudah bahkan untuk menikmati buah ini anda tidak perlu mengeluarkan banyak uang karena harganya yang cukup bersahabat. Bentuknya yang unik hampir seperti bawang berukuran raksasa dan memiliki kulit buah yang tipis dan berwarna putih agak kecoklatan ini ternyata memiliki manfaat yang sangat luar biasa bagi kesehatan. Manfaat bengkoang bagi kesehatan tubuh sangat banyak, dan diantaranya adalah baik untuk kesehatan tulang kita karena mengandung kalsium dan fosfor.

Manfaat Bengkoang Untuk Kesehatan

Banyak sekali manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan, diantaranya adalah sebagaia berikut :
  1. Membantu melancarkan pencernaan di dalam tubuh kita karena mengandung serat alami yang cukup tinggi. 
  2. Mampu membantu menurunkan kadar glukosa di dalam tubuh. 
  3. Mengurangi akan terserangnya penyakit diabetes karena kadar gula yang tinggi.
  4. Efektif mampu menurunkan berat badan. 
  5. Mampu mencegah terserangnya penyakit beri – beri. 
  6. Mengurangi dehidrasi karena kandungan air yang cukup banyak pada bengkoang. 
  7. Mampu mencegah akan terserangnya penyakit jantung dan stroke secara tiba – tiba. 
  8. Membantu mengurangi kadar kolesterol di dalam tubuh kita yang berlebihan.
Itulah beberapa manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsinya setiap hari. Untuk itu mengkonsumsi buah bengkoang ini sangat disarankan karena kaya akan kandungan gizi dan nutrisi alami yang baik untuk kesehatan tubuh kita.

Khasiat Bengkoan Bagi Kesehatan

Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan Tubuh

Banyak sekali manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsinya secara rutin setiap hari. Itu karena beberapa kandungan seperti  vitamin C, vitamin B1, kandungan gula, kalisum, dan fosfor yang ada di dalam buah bengkoang. Itu sebabnya bengkoang merupakan salah satu buah yang gemar dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Biasanya bengkoan ini dikonsumsi sebagai buah – buahan saat membuat rujak dan merupakan salah satu buah pokok yang harus ada pada setiap hidangan rujak. Namun selain itu banyak juga yang mengkonsumsinya secara langsung tanpa bumbu apapun karena memang rasanya yang gurih.

 

LABU WALOH


Labu (waluh)

Waluh (Jawa) adalah salah satu tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia yang penanamannya tidak sulit, baik pembibitannya, perawatanya, hasilnyapun cukup memberikan nilai ekonomis untuk Masyarakat.
Tanaman ini cukup luar biasa karena bisa menyesuaikan sendiri dengan keadaan alam yang berubah-ubah, saat hujan ataupun di musim panas/kemarau tanaman ini tetap bisa hidup dengan baik. Dataran hawa tinggi/dingin maupun dataran rendah berhawa panas cocok ditanami tanaman waluh/labu ini. Tanah yang cenderung asam dengan ph 5 - 6,5 justru di sukainya. Intinya daerah Tropis dan Subtropis tetap bisa ditanami.

Waluh mempunyai potensi bisnis yang menjanjikan. Hasil olahan dari waluh sangat banyak, seperti pengental saus tomat dan kelengkapan sayuran, produk awetan, cake, dan sebagainya. Melalui buku ini Anda mendapatkan cara budi daya waluh, kandungan gizi, pembuatan kuaci dan manisan waluh.
Tanaman jenis semak merambat ini bias mencapai panjang 25 m dengan buah bulat, berdaging tebal, diameter 25-35cm, gundul, biasanya berwarna kuning muda.
Di samping dimanfaatkan sebagai bahan sayuran, buah waluh ternyata mempunyai khasiat dan kegunaan yang sangat banyak diantaranya.
Beberapa keluhan sakit yang dapat diatasi dengan waluh antara lain cacingan, tekanan darah tinggi, arterostklerosis /penyempitan pembuluh darah, jantung, koroner, diabetes mellitus/kencing manis, menurunkan panas, memperlancar BAB, dan mencegah berkembangnya sel penyakit kanker.
Waluh juga dapat dimanfaatkanmengatasi kurang nafsu makan, menurunkan berat badan, dan untuk perawatan kecantikan,
Biji waluh bukanlah limbah atau merupakan sampah yang harus dibuang begitu saja. Biji waluh merupakan bahan makanan yang lumayan enak. Sebagian masyarakat kita banyak yang mempunyai kegemaran mengkonsumsi kuaci biji waluh. Biji waluh Cucurbita Pepo sangat ampuh mencegah dan mengatasi pembengkakan kelenjar prostat. Selain dimakan sebagai kuaci, biji waluh juga dapat diolah menjadi semacam selai dengan cara diblender yang hasilnya bias dioleskan dalam sepotong roti. Kandungan hormone beta sitosterol dalam biji waluh sangat manjur dalam menekan pembentukan prostaglandin. Kelebihan prostaglandin ini akan menyebabkan kelenjar prostate membengkak, akibat meningkatnya kadar dehidritestoteron ketika usia pria terus bertambah, efeknya uretra tercekik sehingga ketika berurine terasa sakit dan terhambat. Biji waluh mengandung alamina, glisina dan asam glutamate yang diperlukan kelenjar prostate. Asam amino langka semacam karboksifenilalanina, pirazoalanina, dan asam aminobutirat juga terdapat dalam biji waluh.
Adapun unsur Vitamin dan yang terkandung di dalam tanaman ini adalah:
- Dalam 100 gr labu kuning ada 34 kalori.
- Lemak 0,8
- 45 mg Kalsium.
- Mineral 0,8
- Serat
- Vitamin C
- Vitamin A

LENGLENGAN



Lenglengan

(Leucas lavandulifolia Smith)
Sinonim :
= L. linifolia, Spreng.
Familia :
labiatae
Uraian :
Tumbuh liar di tanah kering sepanjang tepi jalan, tanah terlantar dan kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian kurang dari 1.500 m dpi. Terna semusim, tegak, tinggi 20-60 cm. Batang berkayu, berbuku-buku, bentuknya segi empat, bercabang, berambut halus, warnanya hijau. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai. Helaian daun bentuknya lanset, ujung dan pangkainya runcing, tepi bergerigi, panjang 1,5-10 cm, lebar 2-10 mm, warnanya hijau muda. Bunga kecil-kecil, warnanya putih berbentuk lidah, tumbuh tersusun dalam karangan semu yang padat. Buahnya buah batu, warnanya coklat. Biji bulat, kecil, warnanya hitam. Herba ini mempunyai khasiat yang sama dengan Leucas zeylanica (L.) R.Br. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Paci-paci (Sunda), sarap nornor (Madura). daun setan, ; Lenglengan, lingko-lingkoan, nienglengan, plengan (Jawa); Gofu hairan (Ternate), laranga (Tidore).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Sukar tidur, Sakit kepala, Influenza, Batuk, Batuk rejan, difteri; Jantung berdebar, Tidak datang haid, Pencernaan terganggu; Cacingan, Kencing manis (Diabetes melitus, Kejang, ayan (epilepsi);
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI: Seluruh tanaman.
KEGUNAAN.
- Sukar tidur, rasa gelisah.
- Sakit kepala.
- lnfluensa.
- Batuk, batuk rejan, difteri.
- Jantung berdebar.
- Tidak datang haid.
- Pencernaan terganggu.
- Cacingan.
- Kencing manis (diabetes mellitus, Kejang, ayan (epilepsi).
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 10-15 g, direbus.
Pemakaian luar: Seluruh tanaman dicuci bersih lalu digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka, koreng, atau kudis.
CARA PEMAKAIAN:
1. Sukar tidur :
    15 g daun segar dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air selama
    15 menit. Setelah dingin disaring dan dibagi menjadi 2 bagian.
    Minum pagi dan sore.
2. Sukar tidur, rasa gelisah: 
    Bantal kepala untuk tidur diisi dengan daun yang telah dikeringkan.
3. Epilepsi :
    3/4 genggam daun segar dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air
    bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring, minum
    dengan air gula secukupnya. Sehari 3 x 1/2 gelas.
4. Kejang panas pada anak :
    1 genggam daun segar dicuci lalu digiling halus, tambahkan air
    garam secukupnya. Aduk sampai menjadi adonan seperti bubur, lalu
    digunakan untuk menggosok dan melamur badan anak yang sedang
    kejang.
5. Sakit kepala, galisah:
    1 genggam daun segar dicuci lalu digiling halus, tambahkan 1
    cangkir air bersih. Dipakai untuk mengompres kepala dengan
    handuk kecil yang dibasahi dengan ramuan tadi, lakukan 3 kali
    sehari.
6. Batuk rejan:
    1 batang tanaman berikut akarnya dicuci lalu direbus dengan 3
    gelas air bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring,
    minum dengan air gula seperlunya. Sehari 3 x 1/2 gelas.
7. Difteri:
    1/2 genggam daun berikut bunga lenglengan, 1/3 genggam daun
    jinten, 1 jari asam trengguli, 1 sendok teh adas, 3/4 jari pulosari,
    dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 2 gelas
    air bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring,
    dipakai untuk berkumur dalam mulut dan tenggorokan selama 2-3
    menit, lalu dibuang.
8. Cacing kremi :
    3/5 genggam daun segar dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air
    bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring, minum
    dengan madu seperlunya Sehari 2 x 3/4 gelas.
9. Jantung berdebar:
    3 genggam daun dicuci lalu direbus dengan 15 liter air bersih
    sampai mendidih selama 15 menit, Hangat-hangat dipakai untuk
    mandi berendam. Lakukan 2 kali sehari.
10. Luka, koreng, kudis:
    1 batang tanaman segar dicuci bersih, rebus dengan 3 gelas air
    sampai mendidih selama 15 menit. Dipakai untuk mencuci luka,
    koreng atau kudis.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Pahit, pedas, hangat. Penenang, antiseptik. KANDUNGAN KIMIA: Daun dan akar: Saponin, flavonoida dan tanin. Daun juga mengandung minyak atsiri.

APEL


Apel

(Pyrus malus, Linn)
Sinonim :
= Malus sylvestris, Mill
Familia :
Rosaceae
Uraian :
Apel (Pyrus malus) dapat hidup subur di daerah yang mempunyai temperatur udara dingin. Tumbuhan ini di Eropa dibudidayakan terutama di daerah subtropis bagian Utara. Sedang apel lokal di Indonesia yang terkenal berasal dari daerah Malang, Jawa Timur. Atau juga berasal dari daerah Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan apel dikatagorikan sebagai salah satu anggota keluarga mawar-mawaran dan mempunyai tinggi batang pohon dapat mencapai 7-10 meter. Daun apel sangat mirip dengan daun tumbuhan bunga mawar. Berbentuk bulat telur dan dihiasi gerigi-gerigi kecil pada tepiannya. Pada usia produktif, apel biasanya akan berbunga pada sekitar bulan Juli. Buah apel yang berukuran macam-macam tersebut sebenarnya merupakan bunga yang membesar atau mengembang sehingga menjadi buah yang padat dan berisi.

Nama Lokal :
Apel (Indonesia, Malang), Apple (Inggris), Appel (Perancis);;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Kencing manis (diabetes mellitus), Diare;
Pemanfaatan :

1. Diabetes Mellitus
    Bahan: 1 biji buah apel berukuran sedang.
    Cara membuat : dibelah menjadi 4 bagian dan direbus dengan air 3-4
    gelas sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas.
    Cara menggunakan : diminum pagi-sore, dan dilakukan secara rutin.
2. Diare
    Bahan: buah apel yang belum begitu masak.
    Cara menggunakan: dimakan biasa.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Buah apel (Pyrus malus) selain mempunyai kandungan senyawa pektin juga mengandung zat gizi, antara lain (per 100 gram) : - Kalori 58 kalori - Hidrat arang 14,9 gram - Lemak 0,4 gram - Protein 0,3 gram - Kalsium 6 mg - Fosfor 10 mg - Besi 0,3 mg - Vitamin A 90 SI - Vitamin B1 0,04 mg - Vitamin C 5 mg - dan Air 84 %

PARE


Pare

(Momordica charantia L.)
Sinonim :
= M.balsamina, Blanco. = M.balsamina, Descourt. = M.cylindrica, Blanco. = M.jagorana C.Koch. = M.operculata, Vell. = Cucumis africanus, Lindl.
Familia :
Cucurbitaceae
Uraian :
Pare banyak terdapat di daerah tropika, tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung. Tanaman setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak. Batang berusuk lima, panjang 2-5 m, yang muda berambut rapat. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1,5-5,3 cm, letak berseling, bentuknya bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, warnanya hijau tua. Taju bergigi kasar sampai berlekuk menyirip. Bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, berwarna kuning. Buah bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit. Warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan 3 katup. Biji banyak, coklat kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras. Ada 3 jenis tanaman pare, yaitu pare gajih, pare kodok dan pare hutan. Pare gajih berdaging tebal, warnanya hijau muda atau keputihan, bentuknya besar dan panjang dan rasanya tidak begitu pahit. Pare kodok buahnya bulat pendek, rasanya pahit. Pare hutan adalah pare yang tumbuh liar, buahnya kecil-kecil dan rasanya pahit. Untuk memperoleh buah yang panjang dan lurus, biasanya pada ujung buah yang masih kecil digantungkan batu. Daun dari pare yang tumbuh liar, dinamakan daun tundung. Daun ini dikatakan lebih berkhasiat bila digunakan untuk pengobatan. Daun dan buahnya yang masih muda dimakan sebagai lalab mentah atau setelah dikukus terlebih dahulu, dimasak sebagai sayuran, tumis, sambal goreng, gado-gado, dan sebagainya. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk membunuh serangga. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Paria, pare, pare pahit, pepareh (Jawa). Prieu, peria, foria,; Pepare, kambeh, paria (Sumatera). Paya, paria, truwuk, ; Paita, paliak, pariak, pania, pepule (Nusa tenggara). Poya, ; Pudu, pentu, paria belenggede, palia (Sulawesi). Papariane,; Pariane, papari, kakariano, taparipong, papariano, popare, pepare;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Batuk, radang tenggorokan, Sakit Mata merah, Demam, malaria.; Menambah napsu makan, kencing manis, Rhematik, Sariawan; Bisul, Abses, Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan;
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI: Buah, biji, bunga, daun dan akar.
KEGUNAAN:
Buah:
- Batuk, radang tenggorok (pharyngitis).
- Haus karena panas dalam.
- Mata sakit dan merah.
- Demam, malaria.
- Pingsan karena udara panas (heatstroke).
- Menambah napsu makan.
- kencing manis.
- Disentri.
- Rheumatism, rematik gout.
- Memperbanyak air susu (ASI).
- Datang haid sakit (dismenorrhoea).
- Sariawan.
- lnfeksi cacing gelang.
Bunga:
- Pencernaan terganggu
Daun:
- Cacingan.
- Luka, abses, bisul.
- Erysipelas.
- Terlambat haid.
- Sembelit, menambah napsu makan.
- Sakit lever.
- Demam.
- Melancarkan pengeluaran ASI.
- Sifilis, kencing nanah (Gonorrhea).
- Menyuburkan rambut pada anak balita.
Akar:
- Disentri amuba.
- Wasir.
Biji:
- Cacingan.
- Impotensi,
- Kanker.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 15-30 g di juice atau di rebus.
Pemakaian luar. Buah atau daun secukupnya digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka bakar, bisul, abses, eksim, digigit serangga, biang keringat (miliaria), melancarkan pengeluaran ASI, dan sebagainya.
CARA PEMAKAIAN:
1. Haus karena panas dalam, demam, heat stroke:
    Satu buah pare mentah yang masih segar dicuci bersih, lalu dibelah.
    Buang isinya, potong-potong secukupnya, lalu direbus dengan 3
    gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring,
    minum.
2. Diabetes:
    a. 200 g buah pare segar dicuci bersih lalu diblender. Tambahkan
       air minum secukupnya, lalu diperas dengan sepotong kain sampai
       terkumpul sebanyak 50 ml (seperempat gelas). Perasan
       dihangatkan dengan api kecil selama 15-30 menit. Setelah dingin
       diminum, lakukan setiap hari.
    b. 200 g buah pare dicuci bersih lalu diiris tipis-tipis. Rebus dengan
       3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring,
       minum, Lakukan setiap hari.
3. Disentri.
    Buah pare segar dicuci lalu dibelah, isinya dibuang. Parut atau
    dijuice, airnya diminum. Segera minum air matang. Satu kali minum
    200 cc.
4. Disentri amuba, diare:
    Ambil akar pare yang masih segar sebanyak 30 g. Dicuci bersih lalu
    dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, tambahkan gula pasir
    secukupnya lalu diminum.
5. Cacingan pada anak:
    a. Daun segar sebanyak 7 g, diseduh dengan 1/2 cangkir air panas.
       Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk
       sampai merata, minum sekaligus sebelum makan pagi.
    b. Ambil dua sampai tiga biji pare. Giling sampai halus, aduk dengan
       sedikit air masak. Minum, disusul dengan minum air hangat.           
       Ramuan ini untuk pengobatan infeksi cacing gelang.
6. Menyuburkan rambut yang tipis dan kemerahan:
    a. Ambil segenggam daun pare, cuci bersih. Daun kemudian
       ditumbuk sampai seperti bubur, tambahkan air 3/4 gelas. Ramuan
       ini kemudian diembunkan semalaman. Pagi-pagi ramuan ini
       disaring, airnya dipakai untuk membasuh kulit kepala.
    b. Ambil daun pare yang masih segar secukupnya, lalu dicuci bersih.
       Daun pare tadi ditumbuk sampai halus, lalu diperas dengan
       sepotong kain. Airnya dipakai untuk melumas kulit kepala.
       Lakukan setiap hari. Ramuan ini terutama digunakan untuk bayi
       dan anak balita.
7. Bisul, abses:
    Ambil segenggam daun pare, cuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas
    air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.
8. Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan:
    Segenggam penuh daun pare dicuci bersih, lalu ditumbuk halus.
    Tambahkan 1 cangkir air matang, diaduk merata lalu disaring. Air
    saringannya ditambahkan sedikit garam, lalu diminum pada pagi hari
    sebelum makan.
9. Kencing nanah:
    6 lembar daun pare, 2 jari akar jayanti, 2 jari kulit kemboja, 1 jari
    rimpang temulawak, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong
    seperlunya. Rebus dengan 4 gelas


Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Pahit, dingin, Anti radang. Masuk meridian jantung, hati dan paru. Buah: Peluruh dahak, pembersih darah, menambah napsu makan, penurun panas, penyegar badan. Bunga: Memacu enzim pencernaan. Daun: Peluruh haid, pencahar, perangsang muntah, penurun panas.

KANDUNGAN KIMIA: Daun: Momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A dan C serta minyak lemak terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. Buah: Karantin, hydroxytryptamine, vitamin A,B dan C. Biji: Momordisin.

MAHONI


Mahoni

(Swietenia mahagoni Jacq.)
Sinonim :
= S. macrophylla, King. = S. mahagoni, (Bl.), Jacq.
Familia :
Meliaceae
Uraian :
Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai. Pohon, tahunan, tinggi 5-25 m, berakar tunggang, batangnya bulat, banyak bercabang dan kayunya bergetah. Daunnya daun majemuk menyirip genap, helaian daun bentuknya bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, tulang menyirip, panjang 3-15 cm. Daun muda berwarna merah, setelah tua warnanya hijau. Bunganya bunga majemuk tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. ibu tangkai bunga silindris, warnanya coklat muda. Kelopak bunga lepas satu sama lain,.bentuknya seperti sendok, warnanya hijau. Mahkota silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putih, kuning kecoklatan. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun. Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya coklat. Biji pipih, warnanya hitam atau coklat. Mahoni merupakan pohon penghasil kayu keras dan digunakan untuk keperluan perabot rumah tangga serta barang ukiran, Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Mahagoni, maoni, moni.;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Tekanan darah tinggi (Hipertensi), Kurang napsu makan, Demam; Kencing manis (Diabetes mellitus), Masuk angin, Ekzema, Rematik;
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Biji, dikeringkan lalu digiling halus menjadi serbuk.
KEGUNAAN:
- Tekanan darah tinggi (Hipertensi).
- Kencing manis (Diabetes mellitus).
- Kurang napsu makan,
- Rematik.
- Demam.
- Masuk angin.
- Ekzema.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 1/2 sendok teh biji yang telah digiling halus menjadi serbuk.
CARA PEMAKAIAN:
1. Hipertensi:
    a. 8 gram biji segar diseduh dengan 2 gelas air panas. Setelah
       dingin disaring lalu dibagi menjadi 2 bagian. Minum pagi dan sore
       hari.
    b. 1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/2 cangkir
       air panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi
       hangat, lakukan 2-3 kali sehari.
2. Kencing manis:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
    panas. Diminum selagi hangat, 30 menit sebelum makan. Lakukan
    2-3 kali sehari.
3. Kurang napsu makan:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
    panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi hangat,
    lakukan 2-3 kali sehari.
4. Demam, masuk angin:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni.diseduh dengan 1/4 cangkir air
    panas, lalu tambahkan 1 sendok makan madu. Diminum selagi
    hangat, lakukan 2-3 kali sehari.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA: Saponin dan flavonoida

BIDARA UPAS


Bidara Upas

(Merremia mammosa (Lour.) Hall.f.)
Sinonim :
= Batatta mammosa, Rumph. = Convoivuius mammosa, Hall. = lpomoea mammosa, Chois.
Familia :
Convolvulaceae
Uraian :
Tumbuh liar di hutan, kadang di tanam di halaman dekat pagar sebagai tanaman obat atau karena umbinya dapat dimakan. Tumbuh dengan baik di daerah tropik dari dataran rendah sampai ketinggian 250 m dpi. Tanaman ini mungkin didatangkan dari Philippine, merupakan tanaman merayap atau membelit yang panjangnya 3-6 m, batangnya kecil bila dipegang agak licin dan warnanya agak gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang, berbentuk jantung, tepi rata, ujung meruncing, panjang 5-12 cm, lebar 4-15 cm, warnanya hijau tua. Perbungaan berbentuk payung menggarpu berkumpul 1-4 bunga, bentuknya seperti lonceng berwarna putih, panjang 7-8 cm, dengan 4 helai kelopak. Umbi berkumpul didalam tanah, mirip ubi jalar. Bila tanahnya kering dan tidak tergenang air serta gembur, beratnya dapat mencapai 5 kg atau lebih. Warna kulit umbinya kuning kecoklatan, kulitnya tebal bergetah warna putih, bila kering warnanya menjadi coklat. Perbanyakan dengan stek batang atau menanam umbinya.

Nama Lokal :
Blanar, widara upas (Jawa), hailale (Ambon).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Demam, batuk, serak, Difteri, Radang tenggorok, radang paru,; Radang usus buntu, Typhus, sembelit, Muntah darah, Kanker; Kencing manis, Keracunan, gigitan ular, kusta, syphilis (Luns).;
Pemanfaatan


BAGIAN YANG DIPAKAI: Umbi.
KEGUNAAN:
- Demam, batuk, serak.
- Difteri, Radang tenggorok, radang paru, radang usus buntu. 
- Typhus, sembelit, buang air besar darah dan lendir.
- Muntah darah.
- Kencing manis (DM), Batu kandung kencing, Keracunan makanan,   
  gigitan ular. 
- Kanker, kusta, syphilis (Lues).
PEMAKAIAN LUAR:
Digunakan untuk memperlancar keluarnya air susu ibu (ASI), obat luka terpotong, luka bakar, bengkak, penyakit kulit, gigitan ular.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 10-100 g umbi segar diparut atau digodok.
Pemakaian luar:  Umbi diiris tipis-tipis atau diparut menjadi bubur, untuk dibalurkan ketempat yang sakit seperti luka, bengkak-bengkak, gigitan ular dan sebagainya.
CARA PEMAKAIAN:
1. Radang usus buntu :
    1/4 jari umbi dicuci bersih lalu diparut dan diremas dengan 1 sendok
    makan air gula, kemudian diperas dan disaring Ialu diminum. Sehari
    2 kali.
2. Muntah darah, typhus:
    Umbi segar secukupnya dicuci bersih lalu diparut, peras dengan
    sepotong kain sampai terkumpul sebanyak 1 gelas kecil. Minum.
3. Buang air besar darah dan lendir :
    50 g umbi dicuci lalu dipotong-potong, tambahkan gula jawa
    secukupnya, godok dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas.
    Setelah dingin disaring, minum sedikit-sedikit.
4. Difteri :
    Umbi segar secukupnya, dicuci lalu diparut, peras dengan sepotong
    kain sampai terkumpul 1 gelas kecil. Dipakai untuk kumur-kumur di
    tenggorokan selama 23 menit, lalu ditelan.
5. Serak, batuk kering:
    Umbi segar sebesar 1 jari tangan dicuci bersih, dipotong tipis-tipis
    lalu dikunyah.  Lakukan 3-4 kali dalam sehari.
6. Batuk :
    100 g umbi segar dicuci lalu diparut, tambahkan sirop gula batu
    secukupnya, diaduk sampai merata lalu diperas dan disaring, minum.
7. Batuk rejan:
    1/2 jari umbi segar dicuci lalu diparut, diremas dengan 2 sendok
    makan air masak dan 1 sendok makan madu, peras dan saring,
    minum. lakukan 2 kali sehari.
8. Kencing manis: 
    100 g umbi segar dicuci bersih Ialu diparut, peras dengan sepotong
    kain.  Minum setiap pagi, 1/2 jam  sebelum makan.
9. Keracunan makanan:
    Umbi segar secukupnya dicuci bersih Ialu diparut, peras dengan
    sepotong kain sampai terkumpul 1/2 gelas.  Minum.
10. Kanker, kusta (Morbqs Hanson):
     3/4 jari umbi segar dicuci lalu diparut, tambahkan 4 sendok makan
     air matang dan 2 sendok makan madu.  Diaduk merata, lalu diperas
     dengan sepotong kain, dibagi untuk 3 kali minum yang habis dalam
     sehari.
11. Luka-luka di kulit :
     Umbi segar dicuci lalu diiris tipis-tipis, letakkan di atas luka.
12. Melancarkan pengeluaran ASI:
     Umbi segar dicuci bersih lalu diparut, borehkan disekeliling
     payudara.
13. Luka bakar:
     Umbi segar dicuci bersih lalu diparut, bubuhkan diatas luka bakar,
     bila perlu dibalut.
14. Gigitan ular:
     Umbi segar dicuci lalu diparut sampai menjadi adonan seperti
     bubur.Tempelkan diatas luka gigitan, lalu dibalut.
15. Syphilis (lues):
     1 jari umbi segar dicuci bersih lalu diparut, tambahkan 2 sendok
     makan air masak dan 1 sendok makan madu murni, peras dan
     saring, minum.  Lakukan 3 kali sehari.
16. Batu kandung kencing / kencing batu:
     10 g umbi bidara upas, 10 g daun kumis kucing, 15 g daun keji
     beling, dicuci lalu umbi dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan
     1 liter air, sampai tersisa 150 cc.  Setelah dingin disaring lalu
     diminum. Sehari 3 x 50 cc.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Anti radang, menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan bengkak, pencahar (laxative), menetralkan racun (antidote), penyejuk. KANDUNGAN KIMIA: Damar, resin, pati, zat pahit. Getah segar mengandung zat oxydase.


Deskripsi
Kandungan Hasil analisis di India (angka, pertama) dan di Thailand (dalam kurung) merupakan komposisi per 100 g bagian yang dapat dimakan: air 86 (71,5) g, protein 0,8 (0,7) g; lemak 0,1 (1,7) g; karbohidrat 12,8 (23,7) g; Ca 30 (30) m, P 30 (30) mg, vitamin A 70 (50) SI, vitamin C 50-150 (23) mg. Nilai energinya 230 (470) kJ/100 g. Deskripsi Berperawakan pohon atau perdu yang menyemak, tingginya mencapai kira-kira 15 m, tumbuh tegak atau menyebar dengan cabang-cabangnya yang menjuntai; letak rantingnya simpangsiur, berbulu kempa; penumpunya berduri, menyendiri dan lurus (berukuran 5-7 mm) atau berbentuk dimorfik berpasangan, cabang yang kedua lebih pendek dan melengkung, duri kadang-kadang tidak ada; pohonnya selalu hijau atau setengah meranggas. Daunnya tunggal, letaknya berselang-seling, berbentuk bundartelur-jorong sampai bundar-telur-lonjong, berukuran (2-9) cm x (1,5-5) cm, tepinya sedikit beringgit atau rata, berkilap dan tak berbulu pada lembaran sebelah atasnya, berbulu kempa yang rapat, berwarna putih pada lembaran sebelah bawahnya, dengan 3 tulang daun membujur yang nyata; tangkai daunnya 8-15 mm panjangnya. Perbungaannya muncul dari ketiak daun, berbentuk payung menggarpu, panjangnya 1-2 cm, tersusun atas 7-20 kuntum bunga; gagang perbungaan panjangnya 2-3 mm; bunganya berdiameter 2-3 mm, berwarna kekuningan, sedikit harum, gagang bunganya 3-8 mm panjangnya; daun kelopaknya bercuping 5, berbentuk delta, bagian luarnya berambut, bagian dalamnya gundul; daun mahkota 5 helai, sedikit berbentuk sudip yang cekung, terlentik; benang sarinya 5 utas; bakal buahnya beruang 2, tangkai putiknya bercabang dua, cakramnya bercuping 10 atau beralur-alur. Buahnya bertipe buah batu, berbentuk bulat sampai bulat telur, dapat mencapai ukuran 6 cm x 4 cm untuk yang dibudidayakan, dan umumnya jauh lebih kecil untuk yang liar; kulit buahnya halus atau kasar, berkilap, tipis tetapi liat, berwarna kekuningan sampai kemerahan atau kehitaman; daging buahnya berwarna putih, mengeripik (crisp), banyak mengandung sari buah, rasanya agak asam sampai manis, menjadi menepung pada buah yang matang penuh. Bijinya terletak dalam batok yang berbenjol dan beralur tidak beraturan, yang berisi 1-2 inti biji yang berwarna coklat.
Manfaat
Buah bidara dari kultivar unggul dapat dimakan dalam keadaan segar, atau diperas menjadi minuman penyegar, juga dikeringawetkan, atau dibuat manisan. Di Asia Tenggara, buah yang belum matang dimakan bergara,m. Pernah dilaporkan bahwa buah bidara juga direbus dan menghasilkan sirop. Di Indonesia, daun mudanya diolah sebagai sayuran; daun-daunnya dapat pula dijadikan pakan. Di India, pohon bidara merupakan salah satu dari beberapa jenis tanaman yang digunakan untuk pemeliharaan serangga lak; ranting-ranting yang terbungkus oleh sekresi serangga itu dipungut untuk diproses menjadi sirlak. Kulit kayu dan buahnya menghasilkan bahan pewarna. Kayunya berwarna kemerahan, bertekstur halus, keras, dan tahan lama, dan digunakan sebagai kayu bubut, alat rumah tangga, dan alat-alat lain. Buah, biji, daun, kulit kayu, dan akarnya berkhasiat obat, terutama untuk membantu pencernaan dan sebagai tapal untuk luka. Di Jawa, misalnya, kulit kayunya digunakan untuk menyembuhkan gangguan pencernaan, sedangkan di Malaysia bubur kulit kayunya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit perut.
Syarat Tumbuh
Bidara merupakan tumbuhan yang bandel, yang dapat mengatasi suhu ekstrem dan mampu bertahan hidup pada lingkungan yang agak kering. Kualitas buahnya akan paling baik jika tumbuh pada lingkungan yang panas, di udara terbuka dan kering, tetapi hendaknya ada musim hujan untuk mendukung pertumbuhan perpanjangan dan pembungaannya, dan idealnya tanahnya memiliki cukup kelembapan sits untuk mematangkan buahnya. Jika terjadi cuaca yang buruk, pohon bidara ini akan menjadi do an. Pada habitat alaminya, curah hujan tahunannya berkisar antara 12 5 mm dan di atas 2.000 m ; suatu penelitian di India menunjukkan bahwa b berapa kultivar akan tumbuh cukup balk pada cura hujan serendah 300-400 mm per tahun. Suhu maksimumnya adalah 37-48° C, dan suhu minimumn 7-13° C, tetapi pohon bidara masih tahan terhadap embun beku yang ringan. Kisaran ketinggian tempat tumbuhnya ialah antara tepi pantai sampai kira-kira 1000 m dpl. Bidara menghendaki tanah yang cukup ringan dan dalam, tetapi pohonnya dapat pula tumbuh di lahan marginal, tanah basa, tanah asin atau sedikit asam, baik tanah ringan maupun berat, rentan terhadap kekeringan atau kadang-kadang tergenang.
Pedoman Budidaya
Walaupun hampir semua pohon bidara yang dipelihara diperbanyak dengan benih, perbanyakan vegetatif makin banyak dipraktekkan, karena itulah satu-satunya cara untuk memperoleh pohon yang sifatnya sama dengan induknya. Pohonnya dapat diperbanyak melalui setek atau cangkok, tetapi penempelan atau penyambunganlah yang lebih sering dilakukan. Anakan atau benih yang seringkali diambil dari jenis-jenis Ziziphus liar yang selalu tersedia di alam, dimanfaatkan sebagai batang bawah. Masa pertumbuhan vegetatif merupakan saat untuk melaksanakan penempelan: tempelan bentuk T atau penempelan cincin merupakan cara yang dianjurkan. Penyambungan pecut (whip grafting) merupakan cara penyambungan yang dianjurkan, tetapi penyambungan penyusuan (suckle grafting), yaitu salah satu pelengkungan, sangat disukai di Thailand. Dl Asia Tenggara, jarak tanam 5-6 m dianggap perlu, tetapi di India umumnya berjarak tanam 8-9 m. Mengingat gangguan terhadap akar tunggang mungkin fatal, kadang-kadang dianjurkan untuk menyemai benih, lalu mengadakan penempelan atau penyambungan semai di tempatnya. Alternatif lainnya ialah menanam benih pada keranjang anyaman kawat yang ceper yang diletakkan di permukaan tanah, untuk memaksa pertumbuhan awal akar-akar lateralnya di lingkungan yang balk, yang diusahakan di persemaian. Mengingat adanya masalah keserasian, dianjurkan untuk melaksanakan penanaman campuran 3 kultivar.
Pemeliharaan
Pohon bidara yang masih muda diikatkan pada tonggak, Ialu dilakukan pemangkasan untuk memperoleh 4 atau 5 cabang penyangga yang bentuknya balk, yang segera mengisi ruangan yang tersedia; tumpang sari hanya dapat dilakukan 2 atau 3 tahun saja. Pohon asal klon dapat berbuah pada tahun kedua dan dapat menghasilkan buah yang memadai pada tahun keempat. Pohonnya terutama akan mengeluarkan bunga dari pucuk pucuk -baru, dan hendaknya dipangkas untuk meyakinkan bahwa pucuk-pucuk ini memiliki kesuburan yang memadai untuk menghasilkan buah yang berukuran baik dengan kualitas yang baik pula. Dl India, pohon bidara berbuah lebat dan teratur, oleh karena itu cabang-cabang penghasil buah akan cepat sekali menjadi tua, sehingga lambat-laun harus segera dipangkas; tindakan ini juga menghindari terlalu rapatnya tajuk pohon dan mendorong kesuburan pucuk. Saat yang paling baik untuk pemangkasan ialah setelah panen, terutama jika pohon itu meluruhkan daun-daunnya, seperti terjadi di India. Di India, petani bidara memupuk dengan pupuk kandang setelah pertumbuhan vegetatif berlangsung, dan pupuk nitrogen diberikan sebagai pupuk pelengkap pada saat pembentukan buah. Tanaman yang sedang berbuah tidak boleh mengalami kekurangan air, dan walaupun pohon bidara berakar dalam sekali, kebun buah bidara ini dipelihara bersih dan diberikan pengairan teknis jika hujan musim muson tidak mencukupi.
Hama dan Penyakit
Lalat buah merupakan penyebab utama kerusakan tanaman bidara, sayangnya serangga ini mempunyai kesenangan pada kultivar yang sama dengan yang disenangi orang. Kerusakan oleh serangga penggerek buah, ulat pemakan daun, 'weevils', kutu loncat, dan kutu bubuk juga telah dilaporkan. Penyakit embun tepung dapat menjadi demikian berbahaya, yang dapat menggugurkan daun dan bakal-bakal buah, namun penyakit ini telah dapat dikendalikan dengan baik. Penyakitpenyakit yang kurang berbahaya adalah busuk coklat dan bercak daun.
Panen dan Pasca Panen
Panen Buah-buah bidara tidak dapat matang serentak, jadi diperlukan pemetikan 4 kali atau lebih untuk menuntaskan panen. Buah yang diambil masih mentah akan menjadi berbau tidak enak, kecuali jika matang benar, dan buah yang terlalu matang akan kehilangan daya tarik warnanya dan teksturnya akan keriput. Di Thailand, buah bidara tersedia di pasaran dari bulan Agustus sampai Februari; di Filipina, musim buah jatuh dari bulan November sampai Februari. Penanganan pasca panen Buah bidara tidak mudah rusak, dapat ditangani dengan balk dan daya tahan tumpuknya sekitar satu minggu. Penyimpanan suhu dingin dapat memperpanjang musim pemasokan buah selama 1 bulan atau Iebih.



Brotowali



Brotowali

(Tinospora crispa (L.) Miers.hen jin t)
Sinonim :
Tinospora rumphii, Boerl. T. tuberculata Beumee. Cocculus crispus, DC. Menispermum verrucosum. M.crispum, Linn. M.tuberculatum, Lamk.
Familia :
Menispermaceae
Uraian :
Tumbuhan liar di hutan, ladang atau ditanam dihalaman dekat pagar. Biasa ditanam sebagai tumbuhan obat. Menyukai tempat panas, termasuk perdu, memanjat, tinggi batang sampai 2,5 m. Batang sebesar jari kelingking, berbintil-bintil rapat rasanya pahit. Daun tunggal, bertangkai, berbentuk seperti jantung atau agak budar telur berujung lancip, panjang 7 - 12 cm, lebar 5 - 10 cm. Bunga kecil, warna hijau muda, berbentuk tandan semu. Diperbanyak dengan stek.

Nama Lokal :
Antawali, bratawali, putrawali, daun gadel (Jawa); Andawali (Sunda), Antawali (Bali); Shen jin teng (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Reumatik, Demam, Nafsu makan, Kencing manis;
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI : Batang.
KEGUNAAN :
1. Rheumatic arthritis, rheumatik sendi pinggul (sciatica), memar.
2. Demam, merangsang nafsu makan, demam kuning.
3. Kencing manis.
PEMAKAIAN : 10 - 15 gr ,  rebus , minum.
PEMAKAIAN LUAR   : Air rebusan batang brotowali dipakai untuk cuci koreng, kudis, luka-luka.
CARA PEMAKAIAN  :
1. Rheumatik :
    1 jari batang brotowali dicuci dan potong-potong seperlunya, direbus
    dengan 3 gelas air sampai menjadi 1 1/2 gelas.  Setelah dingin
    disaring, ditambah madu secukupnya, minum.  Sehari 3 x 1/2 gelas.
2. Demam kuning (icteric)  :
    1 jari batang brotowali dicuci dan potong-potong, direbus dengan 3
    gelas air sampai menjadi 1 1/2 gelas. Diminum dengan madu
    secukupnya. Sehari 2 x 3/4 gelas. 
3. Demam :
    2 jari batang brotowali direbus dengan 2 gelas air, sampai menjadi 1
    gelas.  Setelah dingin, diminum dengan madu secukupnya. Sehari 2x
    1/2 gelas.
4. Kencing manis :
    1/3 genggam daun sambiloto, 1/3 genggam daun kumis kucing, 3/4
    jari ± 6 cm batang brotowali dicuci dan dipotong-potong, direbus
    dengan 3 gelas air sampai menjadi 2 gelas. Diminum setelah makan,
    sehari 2 X 1 gelas.
5. Kudis (scabies) :
    3  jari batang brotowali, belerang sebesar kemiri, dicuci dan
    ditumbuk halus, diremas dengan minyak kelapa seperlunya. Dipakai
    untuk melumas kulit yang terserang kudis. Sehari 2 x.
6. Luka  :
    Daun brotowali ditumbuk halus, letakkan pada luka, diganti 2 x
    perhari.  Untuk mencuci luka, dipakai air rebusan batang brotowali.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Pahit, sejuk. Menghilangkan sakit (Analgetik), penurun panas (antipiretik), melancarkan meridian. KANDUNGAN KIMIA : Alkaloid, damar lunak, pati, glikosida pikroretosid,zat pahit pikroretin, harsa, berberin dan palmatin. Akar mengandung alkaloid berberin dan kolumbin.

PULAI



Pulai

(Alstonia scholaris [L.] R. Br.)
Sinonim :
A. spectabilis, R.Br.
Familia :
Apoeynaccae
Uraian :
Pulai yang termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai. Bunga wangi berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, berambut halus yang rapat. Buah berupa buah bumbung berbentuk pita yang panjangnya 20 - 50 cm, menggantung. Biji kecil, panjang 1,5 - 2 cm, berambut pada bagian tepinya dan berjambul pada ujungnya. Perbanyakan dengan biji atau setek batang dan cabang.

Nama Lokal :
Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian),; hange (Ternate). devil's tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad, saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Demam, malaria, limfa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena ASI.;
Pemanfaatan :


BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.
INDIKASI :
Kulit kayu dapat mengatasi:
- demam, malaria, limpa membesar,
- batuk berdahak,
- diare, disentri,
- kurang nafsu makan,
- perut kembung, sakit perut, kolik,
- kencing manis (diabetes mellitus),
- tekanan darah tinggi (hipertensi),
- wasir,
- anemia,
- gangguan haid, dan
- rematik akut.
Daun dapat digunakan untuk mengatasi:
- borok (ulcer), bisul,
- perempuan setelah melahirkan (masa nifas),
- beri-beri, dan
- payudara bengkak karena bendungan ASI.
CARA PEMAKAIAN :
Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi.
CONTOH PEMAKAIAN :
1. Demam
    a. Kulit batang pulai sebanyak 3 g dicuci bersih lalu direbus dengan
       1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring, tambahkan 1
       sendok makan madu lalu diaduk merata. Minum sekaligus.
    b. Kulit batang bagian dalam diremas-remas dengan daun kelici
       (Caesalpinia crista Linn.) dan daun sembung, tambahkan sedikit
       air. Peras dan saring, minum.
2. Malaria
    Kulit batang pulai yang sudah digiling menjadi bubuk, diambil
    sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Lakukan
    setiap hari sampai sembuh. Selama minum obat ini, hindari makanan
    yang asam dan pedas. Bila penyakitnya berat, gunakan kulit pulai
    hitam.
3. Diare : Minumlah rebusan kulit batang pulai.
4. Memperkuat lambung :
    Kulit batang pulai lapisan sebelah dalam diremas-remas dalam air,
    minum.
5. Perut kembung, limpa membesar :
    Kulit batang pulai bagian dalam. diremas-remas dengan cuka, lalu
    minum.
6. Darah tinggi :
    Kulit batang pulai 1/4 jari, daun kumis kucing dan daun poncosudo
    sebanyak 1/5 genggam, daun pegagan, dan daun meniran masing-
    masing 1/4 genggam, buah ketapang 1 buah, gula enau 3 jari.
    Semua bahan dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan
    3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring,
    dibagi untuk 3 kaii minum. Setiap kaii minum cukup 3/4 gelas.
7. Kencing manis
    Kulit batang pulai sebanyak 2 jari, dicuci lalu dipotong-potong
    seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa
    separonya. Setelah dingin disaring, minum 1/2 jam sebelum makan.
    Sehari 2 kali, masing-masing 3/4 gelas.
8. Membangkitkan selera makan
    Sebanyak 10 g bubuk dari kulit batang pulai diseduh dengan air
    mendidih. Tambahkan air perasan 1 buah jeruk limau, 1 sendok
    makan madu dan sedikit garam, aduk merata. Setelah dingin
    diminum sekaligus.
9. Borok bernanah
    Daun pulai kering digiling menjadi serbuk. Taburkan pada borok
    bernanah setelah dibersihkan terlebih dahulu. Lakukan 2 kali sehari,
    sampai sembuh.
10. Beri-beri
     Ambil daun pulai yang masih muda sebanyak 16 lembar, masukkan
     ke dalam bambu, lalu direbus dengan air,bersih. Air rebusannya
     diminum pada pagi hari. Lakukan setiap hari sampai sembuh.
11. Wanita setelah melahirkan (untuk membersihkan organ dalam)
     a. Sediakan daun pulai dan rimpang jahe yang segar secukupnya,
        lalu cuci bersih. Buat menjadi jus atau ditumbuk sampai halus.
        Saring dan peras, airnya lalu diminum.
     b. Kulit pulai dibersihkan, tambahkan sepotong kunyit, sedikit jahe
        dan separo buah pala. Rebus dengan cuka encer pada periuk
        tanah yang tertutup rapat. Setelah mendidih diangkat. Minum
        selagi hangat.
12. Sakit badan dan dada
     Gunakan akar pulai yang dikunyah dengan pinang. Balurkan pada
     badan yang sakit.
CATATAN :
Ada beberapa jenis pulai, di antaranya pulai putih dan pulai hitam (pulai

BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Kulit kayu dan daun. Kulit kayu dikeringkan dengan cara di jemur atau pemanasan.
INDIKASI :
Kulit kayu dapat mengatasi:
- demam, malaria, limpa membesar,
- batuk berdahak,
- diare, disentri,
- kurang nafsu makan,
- perut kembung, sakit perut, kolik,
- kencing manis (diabetes mellitus),
- tekanan darah tinggi (hipertensi),
- wasir,
- anemia,
- gangguan haid, dan
- rematik akut.
Daun dapat digunakan untuk mengatasi:
- borok (ulcer), bisul,
- perempuan setelah melahirkan (masa nifas),
- beri-beri, dan
- payudara bengkak karena bendungan ASI.
CARA PEMAKAIAN :
Kulit kayu sebanyak 1-3 g direbus, lalu minum. Untuk pemakaian luar, getahnya diteteskan untuk mematangkan bisul, tertusuk duri dan radang kulit. Air rebusan kulit batang pulai digunakan untuk mencuci luka, radang kulit bernanah, borok atau sebagai obat kumur pada sakit gigi.
CONTOH PEMAKAIAN :
1. Demam
    a. Kulit batang pulai sebanyak 3 g dicuci bersih lalu direbus dengan
       1 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring, tambahkan 1
       sendok makan madu lalu diaduk merata. Minum sekaligus.
    b. Kulit batang bagian dalam diremas-remas dengan daun kelici
       (Caesalpinia crista Linn.) dan daun sembung, tambahkan sedikit
       air. Peras dan saring, minum.
2. Malaria
    Kulit batang pulai yang sudah digiling menjadi bubuk, diambil
    sebanyak 2 sendok makan. Rebus dengan 2 gelas air bersih sampai
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum sekaligus. Lakukan
    setiap hari sampai sembuh. Selama minum obat ini, hindari makanan
    yang asam dan pedas. Bila penyakitnya berat, gunakan kulit pulai
    hitam.
3. Diare : Minumlah rebusan kulit batang pulai.
4. Memperkuat lambung :
    Kulit batang pulai lapisan sebelah dalam diremas-remas dalam air,
    minum.
5. Perut kembung, limpa membesar :
    Kulit batang pulai bagian dalam. diremas-remas dengan cuka, lalu
    minum.
6. Darah tinggi :
    Kulit batang pulai 1/4 jari, daun kumis kucing dan daun poncosudo
    sebanyak 1/5 genggam, daun pegagan, dan daun meniran masing-
    masing 1/4 genggam, buah ketapang 1 buah, gula enau 3 jari.
    Semua bahan dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan
    3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring,
    dibagi untuk 3 kaii minum. Setiap kaii minum cukup 3/4 gelas.
7. Kencing manis
    Kulit batang pulai sebanyak 2 jari, dicuci lalu dipotong-potong
    seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa
    separonya. Setelah dingin disaring, minum 1/2 jam sebelum makan.
    Sehari 2 kali, masing-masing 3/4 gelas.
8. Membangkitkan selera makan
    Sebanyak 10 g bubuk dari kulit batang pulai diseduh dengan air
    mendidih. Tambahkan air perasan 1 buah jeruk limau, 1 sendok
    makan madu dan sedikit garam, aduk merata. Setelah dingin
    diminum sekaligus.
9. Borok bernanah
    Daun pulai kering digiling menjadi serbuk. Taburkan pada borok
    bernanah setelah dibersihkan terlebih dahulu. Lakukan 2 kali sehari,
    sampai sembuh.
10. Beri-beri
     Ambil daun pulai yang masih muda sebanyak 16 lembar, masukkan
     ke dalam bambu, lalu direbus dengan air,bersih. Air rebusannya
     diminum pada pagi hari. Lakukan setiap hari sampai sembuh.
11. Wanita setelah melahirkan (untuk membersihkan organ dalam)
     a. Sediakan daun pulai dan rimpang jahe yang segar secukupnya,
        lalu cuci bersih. Buat menjadi jus atau ditumbuk sampai halus.
        Saring dan peras, airnya lalu diminum.
     b. Kulit pulai dibersihkan, tambahkan sepotong kunyit, sedikit jahe
        dan separo buah pala. Rebus dengan cuka encer pada periuk
        tanah yang tertutup rapat. Setelah mendidih diangkat. Minum
        selagi hangat.
12. Sakit badan dan dada
     Gunakan akar pulai yang dikunyah dengan pinang. Balurkan pada
     badan yang sakit.
CATATAN :
Ada beberapa jenis pulai, di antaranya pulai putih dan pulai hitam (pulai)



Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Kulit kayu rasanya pahit, tidak berbau. KANDUNGAN KIMIA : Kulit kayu mengandung alkaloida ditain, ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen (alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian :
1. Zat aktif triterpenoid dari kulit kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci (Setyarini, Fak. Farmasi Unair, 1987).
2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya infeksi telur cacing gelang babi (Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro menekan perkembang telur berembrio menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml (Thresia Ranti, jurusan Farmasi FMIPA ITB, 1 99 1).
3. Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis 0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai efek hipoglikernik (Sulina, Jurusan Farmasi FMIPA ITB, 1978).


































Sambiloto



Sambiloto

(Andrographis paniculata Ness.)

Sinonim :
= Andrographis paniculata, Ness. = Justicia stricta, Lamk. = J.paniculata, Burm. = J.latebrosa, Russ.
Familia :
Acanthaceae
Uraian :
I. Uraian Tumbuhan. Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lernbap, atau di pekarangan. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl. Terna semusim, tinggi 50 - 90 cm, batang disertai banyak cabang berbentuk segi empat (kwadrangularis) dengan nodus yang membesar. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 2 - 8 cm, lebar 1 - 3 cm. Perbungaan rasemosa yang bercabang membentuk malai, keluar dari. ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir berbentuk tabung;kecil- kecil, warnanya putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panj ang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal dan ujung tajam, bila masak akan pecah mernbujur menjadi 4 keping-Biji gepeng, kecil-kecil, warnanya cokelat muda. Perbanyakan dengan biji atau setek batang. II. Syarat Tumbuh a. Iklim · Ketinggian tempat : 1 m - 700 m di atas permukaan laut · Curah hujan tahunan : 2.000 mm - 3.000 mm/tahun · Bulan basah (di atas 100 mm/bulan): 5 bulan - 7 bulan · Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan): 4 bulan - 7 bulan · Suhu udara : 250 C - 320 C · Kelembapan : sedang · Penyinaran : sedang b. Tanah · Tekstur : berpasir · Drainase : baik · Kedalaman air tanah : 200 cm - 300 cm dari permukaan tanah · Kedalaman perakaran : di atas 25 cm dari permukaan tanah · Kemasaman (pH) : 5,5 - 6,5 · Kesuburan : sedang - tinggi 2. Pedoman Bertanam a. Pegolahan Tanah · Buatkan lubang tanam berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm b. Persiapan bibit · Biji disemaikan dalam kantong plastik. c. Penanaman · Bibit ditanam pada lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m

Nama Lokal :
Ki oray, ki peurat, takilo (Sunda). bidara, sadilata, sambilata,; takila (Jawa). pepaitan (Sumatra).; Chuan xin lian, yi jian xi, lan he lian (China), xuyen tam lien,; cong cong (Vietnam). kirata, mahatitka (India/Pakistan).; Creat, green chiretta, halviva, kariyat (Inggris).;



BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Herba. Dipanen sewaktu tumbuhan ini mulai berbunga. Setelah dicuci, dipotong-potong seperlunya lalu dikeringkan.
INDIKASI :
Herba sambiloto ini berkhasiat untuk mengatasi:
- hepatitis, infeksi saluran empedu,
- disentri basiler, tifoid, diare, influenza, radang amandel (tonsilitis),
  abses paru, radang paru (pneumonia), radang saluran napas
  (bronkhitis), radang ginjal akut (pielonefritis akut), radang telinga
  tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi,
- demam, malaria,
- kencing nanah (gonore),
- kencing manis (DM),
- TB paru, skrofuloderma, batuk rej an (pertusis), sesak napas (asma),
- darah tinggi (hipertensi),
- kusta (morbus hansen = lepra),
- leptospirosis,
- keracunan jamur, singkong, tempe bongkrek, makanan laut,
- kanker: penyakit trofoblas seperti kehamilan anggur (mola hidatidosa)
  dan penyakit trofoblas ganas (tumor trofoblas), serta tumor paru.
CARA PEMAKAIAN :
Herba kering sebanyak 10 - 20 g direbus atau herba kering digiling halus menjadi bubuk lalu diseduh, minum atau 3 - 4 kali sehari,  4 - 6 tablet. Untuk pengobatan kanker, digunakan cairan infus, injeksi, atau tablet. Untuk pemakaian luar, herba segar direbus lalu airnya digunakan untuk cuci atau digiling halus dan dibubuhkan ke tempat yang sakit, seperti digigit ular berbisa, gatal-gatal, atau bisul.
CONTOH PEMAKAIAN :
1. Tifoid
    Daun sambiloto segar sebanyak 10 - 15 lembar direbus dengan 2
    gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, tambahkan
    madu secukupnya lalu diminum sekaligus. Lakukan 3 kali sehari.
2. Disentri basiler, diare, radang saluran napas, radang paru
    Herba kering sebanyak 9 - 15 g direbus dengan 3 gelas air sampai
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Air rebusannya diminum
    sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.
3. Disentri
    Herba krokot segar (Portulaca oleracea) sebanyak 500 g diuapkan
    selama 3 - 4 menit, lalu ditumbuk dan diperas. Air perasan yang
    terkumpul ditambahkan bubuk kering sambiloto sebanyak 10 g
    sambil diaduk. Campuran tersebut lalu diminum, sehari 3 kali
    masing-masing 1/3 bagian.
4. Influenza, sakit kepala, demam
    Bubuk kering sambiloto sebanyak 1 g diseduh dengan cangkir air
    panas. Setelah dingin diminum sekaligus, Lakukan 3 - 4 kali sehari.
5. Demam
    Daun sambiloto segar sebanyak 1 genggam ditumbuk. Tambahkan
    1/2 cangkir air bersih, saring lalu minum sekaligus. Daun segar yang
    digiling halus juga bisa digunakan sebagai tapal badan yang panas. 
6. TB paru
    Daun sambiloto kering digiling menjadi bubuk. Tambahkan madu
    secukupnya sambil diaduk rata lalu dibuat pil dengan diameter 0,5
    cm. Pil ini Ialu diminum dengan air matang. Sehari 2 - 3 kali, setiap
    kali minum 15 - 30 pil.
7. Batuk rejan (pertusis), darah tinggi
    Daun sambiloto segar sebanyak 5 - 7 lembar diseduh dengan 1/2
    cangkir air panas. Tambahkan madu secukupnya sambil diaduk.
    Setelah dingin minum sekaligus. Lakukan sehari 3 kali.
8. Radang paru, radang mulut, tonsilitis
    Bubuk kering herba sambiloto sebanyak 3 - 4,5 g diseduh dengan
    air panas. Setelah dingin tambahkan madu secukupnya lalu diminum
    sekaligus.
9. Faringitis
    Herba sambiloto segar sebanyak 9 g dicuci lalu dibilas dengan air
    matang. Bahan tersebut lalu dikunyah dan aimya ditelan.
10. Hidung berlendir (rinorea), infeksi telinga tengah (OMA), sakit gigi
     Herba sambiloto segar sebanyak 9 - 15 g direbus dengan 3 gelas air
     sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, lalu diminum 2 kali
     sehari @ 1/2 gelas. Untuk OMA, herba segar dicuci lalu digiling
     halus dan diperas. Airnya digunakan untuk tetes telinga.
11. Kencing manis
     Daun sambiloto segar sebanyak 1/2 genggam dicuci lalu direbus
     dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin
     disaring, lalu diminum sehabis makan, 3 kali sehari @ 3/4 gelas.
12. Kencing nanah
     Sebanyak 3 tangkai sambilo


Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : : Herba ini rasanya pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan usus kecil. KANDUNGAN KIMIA : Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Flavotioid diisolasi terbanyak dari akar, yaitu polimetoksiflavon, andrografin, pan.ikulin, mono-0- metilwithin, dan apigenin-7,4- dimetileter. Zat aktif andrografolid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektbr (melindungi sel hati dari zat toksik). Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian :
1. Herba ini berkhasiat bakteriostatik pada Staphylococcus aurcus, Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Shigella dysenteriae, dan Escherichia coli.
2. Herba ini sangat efektif untuk pengobatan infeksi. In vitro, air rebusannya merangsang daya fagositosis sel darah putih.
3. Andrografolid menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas pada kelinci.
4. Andrografolid dapat mengakhiri kehamilan dan menghambat pertumbuhan trofosit plasenta.
5. Dari segi farmakologi, sambiloto mempunyai efek muskarinik pada pembuluh darah, efek pada jantung iskeniik, efek pada respirasi sel, sifat kholeretik, antiinflamasi, dan antibakteri.
6. Komponen aktifnya seperti ncoandrografolid, andrografolid, deoksiandrografolid dan 14-deoksi-11, 12-didehidroandrografolid berkhasiat antiradang dan antipiretik.
7. Pemberian rebusan daun sambiloto 40% bly sebanyak 20 milkg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih (W. Sugiyarto, Fak. Farmasi UGM, 1978).
8. Infus daun sarnbiloto 5%, 10% dan 15%, semuanya dapat menurunkan suhu tubuh marmut yarrg dibuat demam (Hasir, jurusan Farmasi, FMIPA UNHAS, 1988).
9. Infus herba sambiloto mempunyai daya antijamur terhadap Microsporum canis, Trichophyton mentagrophytes, Trichophyton rubrum, Candida albicans, dan Epidermophyton floccosum (Jan Susilo*, Endang Hanani **, A. Soemiati** dan Lily Hamzah**, Bagian Parasitologi FK UI* dan Jurusan Farmasi FMIPAUI**, Warta Perhipba No.Flll, Jan-Maret 1995).
10. Fraksi etanol herba sambiloto mempunyai efek antihistaminergik. Peningkatan konsentrasi akan meningkatkan hambatan kontraksi ileum marmot terisolasi yang diinduksi dengan histamin dihidroksiklorida (Yufri Aidi, N.C. Sugiarso, Andreanus, AA.S., Anna Setiadi Ranti, Jurusan Farmasi FMIPA, ITB, Warta Tumbuhan Obat Indonesia vol. 3 No. 1, 1996).

Petai China /Mlanding


MANFAAT PETAI CINA BAGI KESEHATANBeragam suku dan bahasa menjadikan banyak sekali penyebutan nama terhadap tumbuhan ini. Lamtoro, petai cina, pete china, peuteuy selong, kemlandingan, kamalandingan atau melandingan dan mungkin masih banyak lagi. Petai cina adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae (=Leguminosae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi. Berasal dari Amerika tropis, tumbuhan ini sudah ratusan tahun dimasukkan ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan kehutanan, dan kemudian menyebar pula ke pulau-pulau yang lain di Indonesia. Oleh sebab itu agaknya, maka tanaman ini di Malaysia dinamai petai jawa. (wikipedia).

Petai cina mengandung kalsium, lemak, fosfor, zat besi, protein serta vitamin A, B1 dan C. Sementara bijinya mengandung mimosin, leukanin, protein dan leukanol. Efek farmakologisnya memiliki rasa agak pahit dan bersifat netral.
Tanaman ini sangat bermanfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagai obat kencing manis, obat cacing, peluruh urine, obat patah tulang, obat luka terpukul, obat sulit tidur atau insomnia, obat bengkak, obat radang ginjal dan obat disentri. Sedangkan akarnya dapat dimanfaatkan sebagai peluruh haid.
Obat Kencing Manis (diabetes melitus)


Sangrai biji petai cina yang sudah tua dan kering, kemudian ambil satu sendok makan dan campur dengan satu gelas air panas. Kemudian minum airnya satu gelas setiap hari.

Obat Cacingan
Tumbuk biji petai cina yang sudah tua dan telah di keringkan secukupnya hingga halus, kemudian ambil 5 gram bubuknya dan seduh dengan 100 cc air panas dan minum selagi hangat.

Obat Luka Baru dan Bengkak
Tumbuk halus daun petai cina secukupnya lalu ditempelkan pada luka.

Obat Luka Tertusuk Bambu Dan Serpihan Kayu
Tumbuk halus daun petai cina lalu ditambah terasi dapur secukupnya, aduk sampai merata kemudian tempelkan pada bagian yang sakit, kemudian dibalut dengan kain pembalut.

Disentri
Rebus 15 g biji lamtoro, 30 gram krokot dengan 400 cc air hingga tersisa setengahnya. Kemudian setelah dingin saring dan minum airnya.

Kamis, 10 Oktober 2013

Komri


Kompri
(Symphytum officinale L. Em,) 
Sinonim :
Familia :
Boraginaceae
Uraian :
Kompri amat umum di Eropa dan Asia Barat, yang tumbuh di tanah berumpput basah atau pinggir selokan. Di Indonesia kompri biasa ditanam dalam pot atau di kebun sebagai tumbuhan obat. Herba, membentuk rumpun, tinggi 20 - 50 cm. Tumbuhan berbatang sernu. Daun tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan berambut kasar, panjang 27 - 50 cm, lebar 4,5 - 14 cm, pertulangan menyirip, pelepah tumbuh berseling pada pangkal membentuk roset akar, warnanya hijau. Bunga majemuk, bentuk corong, putih kekuningan. Buah bulat, tiap buah terdiri dari 4 biji. Biji bulat, kecil, keras, dan hitam. Daun muda bisa dimakan sebagai sayuran. Perbanyakan dengan pemisahan akar. 
Nama Lokal :
Kompri, komring (Jawa).; K'ang fu li (China), comfrey, knitbone (Inggris).; 
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Rematik, pegal linu, diare, tifoid, nyeri ulu hati, kanker payudara,; Radang saluran napas (bronkhitis), luka memar, borok, ; Kencing manis (diabetes melitus), patah tulang (fraktur), ; Tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik gout, radang usus,; Payudara bengkak karena ASI, gangguan lambung,; Batuk berdahak, radang amandel (tonsilis), darah haid banyak,; Kencing darah, liur berdarah, dan wasir berdarah.; 
Pemanfaatan :
CATATAN :
- Pemakaian berlebihan menyebabkan keracunan, terutama kerusakan 
  hati. 
- Sebaiknya penggunaan kompri untuk pengobatan dibatasi sampai 
  penelitian lebih lanjut tentang tumbuhan obat ini selesai dilakukan. 
  Penelitian terakhir mengungkapkan kalau kompri adalah tumbuhan 
  yang bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). 
- Untuk pemakaian luar, penggunaan daun kompri sebagai obat untuk 
  penyembuhan luka dan tulang patah tidak bermasalah. 
Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Daun kompri mengandung symphytine, echimidine, anadoline, al- kaloid pyrrolizidine (PAs), tanin, minyak asiri, allantoin, dan vitamin (B 1, B2, C dan E). Alkaloid pyrrolizidine diketahui merupakan penyebab kerusakan hati yang dinamakan hepatic veno-occlusive disease (HVOD). Sedangkan akarnya mengandung alkaloid pyrrolizidine dengan jumlah yang lebih besar dari daun. Efek Farkologis dan Hasil Penelitian : lnfus daun kompri 20% dengan takaran 25 dan 40 ml/kg bb mempunyai efek menurunkan kadar gula darah tikus putih jantan sebanding dengan suspensi klorpropamida 22,5 mg/kg bb. (Amrizal M., Jurusan Farmasi, FMIPA, UNAND, 1988).