Kamis, 17 Oktober 2013

Daun Wungu



Jumlah penderita diabetes di Indonesia terbilang sangat tinggi dan diprediksi akan terus meningkat. Untuk itu, banyak bahan alami yang digunakan sebagai obat untuk mengobati penyakit mematikan tersebut.
Sebut saja kulit dan daging buah salak, biji alpukat, serta daun sirih merah yang telah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Sleman, Yogyakarta untuk menurunkan glukosa darah. Selain itu, tanaman memiliki fungsi dan komponen sama dengan daun sirih merah adalah daun wungu.
Di Kabupaten Indramayu, masyarakat sekitar hanya memanfaatkan daun wungu untuk mengobati diare. Padahal, khasiat tanaman bernama latin Graptophylum pictum L. Griff itu terbukti ampuh menangkal diabetes.
Hasil ini diperoleh berkat penelitian sekelompok mahasiswa Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) program keahlian Analisis Kimia. Daun wungu mudah ditemukan karena merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, kebun kosong, pagar atau ditanam sebagai tanaman hias pekarangan.
Tanaman asal Papua dan Polinesia ini tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 100 sampai 2.300 m di atas permukaan laut dan berbunga sepanjang Juli-September. Tidak hanya itu, daun wungu dapat tumbuh dengan baik pada tempat terbuka yeng terkena sinar matahari, ataupun pada iklim kering atau lembab.
"Dasar yang dapat kami gunakan tidak hanya itu, tetapi juga dilihat dari silsilah daun wungu yang termasuk dalam famili Acanthaceae. Famili Acanthaceae secara signifikan dapat memperbaiki toleransi glukosa dalam tubuh manusia dan pasien diabetes," ungkap salah seorang anggota tim peneliti, Aziz Nuraditya, seperti dilansir Okezone.
Dalam tubuh manusia, kata Aziz, enzim a-glukosidase membantu memecah rantai polisakarida di setiap titik percabangan yang tidak dapat dipecahkan oleh enzim amilase. Aktivitas enzim ini menghasilkan polimer tidak bercabang dan satu glukosa.
"Senyawa ini memperlambat pencernaan pati dalam usus halus, sehingga glukosa dari pati dan makanan memasuki aliran darah lebih lambat, dan dapat disesuaikan lebih efektif oleh suatu gangguan respon atau sensitivitas insulin. Bila kerja enzim itu dihambat, proses konversi karbohidrat menjadi glukosa bisa ditekan," tuturnya.
Bersama empat rekannya, yakni Badrunanto, Debby Sinthya D, Marwan Ghozali, dan Marnatal Simanulang, Aziz melakukan penelitian di laboratorium Terpadu Diploma IPB. Di bawah bimbingan Dosen Departemen Biokimia IPB Dimas Andrianto, penelitian ini bertujuan menemukan formula yang tepat terhadap daun Wungu untuk menginhibisi (menghambat) kerja enzim a-glukosidase.
Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan terbukti jika daun wungu memiliki daya pencegahan (inhibisi) lebih tinggi terhadap diabetes dibandingkan dengan tanaman lain, seperti salak dan daun sirih merah. Daun Wungu yang diekstrak dengan etanol 96 persen, lanjutnya, berhasil menghambat kerja enzim sebesar 71,97 persen.
"Daya inhibisi daun Wungu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tumbuhan lain. Buah salak yang mempunyai daya inhibisi sebesar 13,18 persen terhadap enzim a-glukosidase dan daun sirih merah yang memiliki daya inhibisi sebesar 39,62 persen. Maka dapat dikatakan secara in vitro, daun Wungu mampu menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, penyebab diabetes," ujar Aziz. (as)

Jumat, 11 Oktober 2013

BENGKOANG


Bengkoang merupakan salah satu buah yang cukup banyak sekali diminati untuk dikonsumsi, terutama bagi masyarakat Indonesia. Mengapa demikian? Bengkoang merupakan salah satu buah yang bisa kita dapatkan dengan mudah bahkan untuk menikmati buah ini anda tidak perlu mengeluarkan banyak uang karena harganya yang cukup bersahabat. Bentuknya yang unik hampir seperti bawang berukuran raksasa dan memiliki kulit buah yang tipis dan berwarna putih agak kecoklatan ini ternyata memiliki manfaat yang sangat luar biasa bagi kesehatan. Manfaat bengkoang bagi kesehatan tubuh sangat banyak, dan diantaranya adalah baik untuk kesehatan tulang kita karena mengandung kalsium dan fosfor.

Manfaat Bengkoang Untuk Kesehatan

Banyak sekali manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan, diantaranya adalah sebagaia berikut :
  1. Membantu melancarkan pencernaan di dalam tubuh kita karena mengandung serat alami yang cukup tinggi. 
  2. Mampu membantu menurunkan kadar glukosa di dalam tubuh. 
  3. Mengurangi akan terserangnya penyakit diabetes karena kadar gula yang tinggi.
  4. Efektif mampu menurunkan berat badan. 
  5. Mampu mencegah terserangnya penyakit beri – beri. 
  6. Mengurangi dehidrasi karena kandungan air yang cukup banyak pada bengkoang. 
  7. Mampu mencegah akan terserangnya penyakit jantung dan stroke secara tiba – tiba. 
  8. Membantu mengurangi kadar kolesterol di dalam tubuh kita yang berlebihan.
Itulah beberapa manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsinya setiap hari. Untuk itu mengkonsumsi buah bengkoang ini sangat disarankan karena kaya akan kandungan gizi dan nutrisi alami yang baik untuk kesehatan tubuh kita.

Khasiat Bengkoan Bagi Kesehatan

Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan Tubuh

Banyak sekali manfaat bengkoang yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsinya secara rutin setiap hari. Itu karena beberapa kandungan seperti  vitamin C, vitamin B1, kandungan gula, kalisum, dan fosfor yang ada di dalam buah bengkoang. Itu sebabnya bengkoang merupakan salah satu buah yang gemar dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Biasanya bengkoan ini dikonsumsi sebagai buah – buahan saat membuat rujak dan merupakan salah satu buah pokok yang harus ada pada setiap hidangan rujak. Namun selain itu banyak juga yang mengkonsumsinya secara langsung tanpa bumbu apapun karena memang rasanya yang gurih.

 

LABU WALOH


Labu (waluh)

Waluh (Jawa) adalah salah satu tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia yang penanamannya tidak sulit, baik pembibitannya, perawatanya, hasilnyapun cukup memberikan nilai ekonomis untuk Masyarakat.
Tanaman ini cukup luar biasa karena bisa menyesuaikan sendiri dengan keadaan alam yang berubah-ubah, saat hujan ataupun di musim panas/kemarau tanaman ini tetap bisa hidup dengan baik. Dataran hawa tinggi/dingin maupun dataran rendah berhawa panas cocok ditanami tanaman waluh/labu ini. Tanah yang cenderung asam dengan ph 5 - 6,5 justru di sukainya. Intinya daerah Tropis dan Subtropis tetap bisa ditanami.

Waluh mempunyai potensi bisnis yang menjanjikan. Hasil olahan dari waluh sangat banyak, seperti pengental saus tomat dan kelengkapan sayuran, produk awetan, cake, dan sebagainya. Melalui buku ini Anda mendapatkan cara budi daya waluh, kandungan gizi, pembuatan kuaci dan manisan waluh.
Tanaman jenis semak merambat ini bias mencapai panjang 25 m dengan buah bulat, berdaging tebal, diameter 25-35cm, gundul, biasanya berwarna kuning muda.
Di samping dimanfaatkan sebagai bahan sayuran, buah waluh ternyata mempunyai khasiat dan kegunaan yang sangat banyak diantaranya.
Beberapa keluhan sakit yang dapat diatasi dengan waluh antara lain cacingan, tekanan darah tinggi, arterostklerosis /penyempitan pembuluh darah, jantung, koroner, diabetes mellitus/kencing manis, menurunkan panas, memperlancar BAB, dan mencegah berkembangnya sel penyakit kanker.
Waluh juga dapat dimanfaatkanmengatasi kurang nafsu makan, menurunkan berat badan, dan untuk perawatan kecantikan,
Biji waluh bukanlah limbah atau merupakan sampah yang harus dibuang begitu saja. Biji waluh merupakan bahan makanan yang lumayan enak. Sebagian masyarakat kita banyak yang mempunyai kegemaran mengkonsumsi kuaci biji waluh. Biji waluh Cucurbita Pepo sangat ampuh mencegah dan mengatasi pembengkakan kelenjar prostat. Selain dimakan sebagai kuaci, biji waluh juga dapat diolah menjadi semacam selai dengan cara diblender yang hasilnya bias dioleskan dalam sepotong roti. Kandungan hormone beta sitosterol dalam biji waluh sangat manjur dalam menekan pembentukan prostaglandin. Kelebihan prostaglandin ini akan menyebabkan kelenjar prostate membengkak, akibat meningkatnya kadar dehidritestoteron ketika usia pria terus bertambah, efeknya uretra tercekik sehingga ketika berurine terasa sakit dan terhambat. Biji waluh mengandung alamina, glisina dan asam glutamate yang diperlukan kelenjar prostate. Asam amino langka semacam karboksifenilalanina, pirazoalanina, dan asam aminobutirat juga terdapat dalam biji waluh.
Adapun unsur Vitamin dan yang terkandung di dalam tanaman ini adalah:
- Dalam 100 gr labu kuning ada 34 kalori.
- Lemak 0,8
- 45 mg Kalsium.
- Mineral 0,8
- Serat
- Vitamin C
- Vitamin A

LENGLENGAN



Lenglengan

(Leucas lavandulifolia Smith)
Sinonim :
= L. linifolia, Spreng.
Familia :
labiatae
Uraian :
Tumbuh liar di tanah kering sepanjang tepi jalan, tanah terlantar dan kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian kurang dari 1.500 m dpi. Terna semusim, tegak, tinggi 20-60 cm. Batang berkayu, berbuku-buku, bentuknya segi empat, bercabang, berambut halus, warnanya hijau. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai. Helaian daun bentuknya lanset, ujung dan pangkainya runcing, tepi bergerigi, panjang 1,5-10 cm, lebar 2-10 mm, warnanya hijau muda. Bunga kecil-kecil, warnanya putih berbentuk lidah, tumbuh tersusun dalam karangan semu yang padat. Buahnya buah batu, warnanya coklat. Biji bulat, kecil, warnanya hitam. Herba ini mempunyai khasiat yang sama dengan Leucas zeylanica (L.) R.Br. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Paci-paci (Sunda), sarap nornor (Madura). daun setan, ; Lenglengan, lingko-lingkoan, nienglengan, plengan (Jawa); Gofu hairan (Ternate), laranga (Tidore).;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Sukar tidur, Sakit kepala, Influenza, Batuk, Batuk rejan, difteri; Jantung berdebar, Tidak datang haid, Pencernaan terganggu; Cacingan, Kencing manis (Diabetes melitus, Kejang, ayan (epilepsi);
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI: Seluruh tanaman.
KEGUNAAN.
- Sukar tidur, rasa gelisah.
- Sakit kepala.
- lnfluensa.
- Batuk, batuk rejan, difteri.
- Jantung berdebar.
- Tidak datang haid.
- Pencernaan terganggu.
- Cacingan.
- Kencing manis (diabetes mellitus, Kejang, ayan (epilepsi).
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 10-15 g, direbus.
Pemakaian luar: Seluruh tanaman dicuci bersih lalu digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka, koreng, atau kudis.
CARA PEMAKAIAN:
1. Sukar tidur :
    15 g daun segar dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air selama
    15 menit. Setelah dingin disaring dan dibagi menjadi 2 bagian.
    Minum pagi dan sore.
2. Sukar tidur, rasa gelisah: 
    Bantal kepala untuk tidur diisi dengan daun yang telah dikeringkan.
3. Epilepsi :
    3/4 genggam daun segar dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air
    bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring, minum
    dengan air gula secukupnya. Sehari 3 x 1/2 gelas.
4. Kejang panas pada anak :
    1 genggam daun segar dicuci lalu digiling halus, tambahkan air
    garam secukupnya. Aduk sampai menjadi adonan seperti bubur, lalu
    digunakan untuk menggosok dan melamur badan anak yang sedang
    kejang.
5. Sakit kepala, galisah:
    1 genggam daun segar dicuci lalu digiling halus, tambahkan 1
    cangkir air bersih. Dipakai untuk mengompres kepala dengan
    handuk kecil yang dibasahi dengan ramuan tadi, lakukan 3 kali
    sehari.
6. Batuk rejan:
    1 batang tanaman berikut akarnya dicuci lalu direbus dengan 3
    gelas air bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring,
    minum dengan air gula seperlunya. Sehari 3 x 1/2 gelas.
7. Difteri:
    1/2 genggam daun berikut bunga lenglengan, 1/3 genggam daun
    jinten, 1 jari asam trengguli, 1 sendok teh adas, 3/4 jari pulosari,
    dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 2 gelas
    air bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring,
    dipakai untuk berkumur dalam mulut dan tenggorokan selama 2-3
    menit, lalu dibuang.
8. Cacing kremi :
    3/5 genggam daun segar dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air
    bersih sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring, minum
    dengan madu seperlunya Sehari 2 x 3/4 gelas.
9. Jantung berdebar:
    3 genggam daun dicuci lalu direbus dengan 15 liter air bersih
    sampai mendidih selama 15 menit, Hangat-hangat dipakai untuk
    mandi berendam. Lakukan 2 kali sehari.
10. Luka, koreng, kudis:
    1 batang tanaman segar dicuci bersih, rebus dengan 3 gelas air
    sampai mendidih selama 15 menit. Dipakai untuk mencuci luka,
    koreng atau kudis.

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Pahit, pedas, hangat. Penenang, antiseptik. KANDUNGAN KIMIA: Daun dan akar: Saponin, flavonoida dan tanin. Daun juga mengandung minyak atsiri.

APEL


Apel

(Pyrus malus, Linn)
Sinonim :
= Malus sylvestris, Mill
Familia :
Rosaceae
Uraian :
Apel (Pyrus malus) dapat hidup subur di daerah yang mempunyai temperatur udara dingin. Tumbuhan ini di Eropa dibudidayakan terutama di daerah subtropis bagian Utara. Sedang apel lokal di Indonesia yang terkenal berasal dari daerah Malang, Jawa Timur. Atau juga berasal dari daerah Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan apel dikatagorikan sebagai salah satu anggota keluarga mawar-mawaran dan mempunyai tinggi batang pohon dapat mencapai 7-10 meter. Daun apel sangat mirip dengan daun tumbuhan bunga mawar. Berbentuk bulat telur dan dihiasi gerigi-gerigi kecil pada tepiannya. Pada usia produktif, apel biasanya akan berbunga pada sekitar bulan Juli. Buah apel yang berukuran macam-macam tersebut sebenarnya merupakan bunga yang membesar atau mengembang sehingga menjadi buah yang padat dan berisi.

Nama Lokal :
Apel (Indonesia, Malang), Apple (Inggris), Appel (Perancis);;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Kencing manis (diabetes mellitus), Diare;
Pemanfaatan :

1. Diabetes Mellitus
    Bahan: 1 biji buah apel berukuran sedang.
    Cara membuat : dibelah menjadi 4 bagian dan direbus dengan air 3-4
    gelas sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas.
    Cara menggunakan : diminum pagi-sore, dan dilakukan secara rutin.
2. Diare
    Bahan: buah apel yang belum begitu masak.
    Cara menggunakan: dimakan biasa.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Buah apel (Pyrus malus) selain mempunyai kandungan senyawa pektin juga mengandung zat gizi, antara lain (per 100 gram) : - Kalori 58 kalori - Hidrat arang 14,9 gram - Lemak 0,4 gram - Protein 0,3 gram - Kalsium 6 mg - Fosfor 10 mg - Besi 0,3 mg - Vitamin A 90 SI - Vitamin B1 0,04 mg - Vitamin C 5 mg - dan Air 84 %

PARE


Pare

(Momordica charantia L.)
Sinonim :
= M.balsamina, Blanco. = M.balsamina, Descourt. = M.cylindrica, Blanco. = M.jagorana C.Koch. = M.operculata, Vell. = Cucumis africanus, Lindl.
Familia :
Cucurbitaceae
Uraian :
Pare banyak terdapat di daerah tropika, tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung. Tanaman setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak. Batang berusuk lima, panjang 2-5 m, yang muda berambut rapat. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1,5-5,3 cm, letak berseling, bentuknya bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, warnanya hijau tua. Taju bergigi kasar sampai berlekuk menyirip. Bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, berwarna kuning. Buah bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit. Warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan 3 katup. Biji banyak, coklat kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras. Ada 3 jenis tanaman pare, yaitu pare gajih, pare kodok dan pare hutan. Pare gajih berdaging tebal, warnanya hijau muda atau keputihan, bentuknya besar dan panjang dan rasanya tidak begitu pahit. Pare kodok buahnya bulat pendek, rasanya pahit. Pare hutan adalah pare yang tumbuh liar, buahnya kecil-kecil dan rasanya pahit. Untuk memperoleh buah yang panjang dan lurus, biasanya pada ujung buah yang masih kecil digantungkan batu. Daun dari pare yang tumbuh liar, dinamakan daun tundung. Daun ini dikatakan lebih berkhasiat bila digunakan untuk pengobatan. Daun dan buahnya yang masih muda dimakan sebagai lalab mentah atau setelah dikukus terlebih dahulu, dimasak sebagai sayuran, tumis, sambal goreng, gado-gado, dan sebagainya. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk membunuh serangga. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Paria, pare, pare pahit, pepareh (Jawa). Prieu, peria, foria,; Pepare, kambeh, paria (Sumatera). Paya, paria, truwuk, ; Paita, paliak, pariak, pania, pepule (Nusa tenggara). Poya, ; Pudu, pentu, paria belenggede, palia (Sulawesi). Papariane,; Pariane, papari, kakariano, taparipong, papariano, popare, pepare;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Batuk, radang tenggorokan, Sakit Mata merah, Demam, malaria.; Menambah napsu makan, kencing manis, Rhematik, Sariawan; Bisul, Abses, Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan;
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI: Buah, biji, bunga, daun dan akar.
KEGUNAAN:
Buah:
- Batuk, radang tenggorok (pharyngitis).
- Haus karena panas dalam.
- Mata sakit dan merah.
- Demam, malaria.
- Pingsan karena udara panas (heatstroke).
- Menambah napsu makan.
- kencing manis.
- Disentri.
- Rheumatism, rematik gout.
- Memperbanyak air susu (ASI).
- Datang haid sakit (dismenorrhoea).
- Sariawan.
- lnfeksi cacing gelang.
Bunga:
- Pencernaan terganggu
Daun:
- Cacingan.
- Luka, abses, bisul.
- Erysipelas.
- Terlambat haid.
- Sembelit, menambah napsu makan.
- Sakit lever.
- Demam.
- Melancarkan pengeluaran ASI.
- Sifilis, kencing nanah (Gonorrhea).
- Menyuburkan rambut pada anak balita.
Akar:
- Disentri amuba.
- Wasir.
Biji:
- Cacingan.
- Impotensi,
- Kanker.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 15-30 g di juice atau di rebus.
Pemakaian luar. Buah atau daun secukupnya digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka bakar, bisul, abses, eksim, digigit serangga, biang keringat (miliaria), melancarkan pengeluaran ASI, dan sebagainya.
CARA PEMAKAIAN:
1. Haus karena panas dalam, demam, heat stroke:
    Satu buah pare mentah yang masih segar dicuci bersih, lalu dibelah.
    Buang isinya, potong-potong secukupnya, lalu direbus dengan 3
    gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring,
    minum.
2. Diabetes:
    a. 200 g buah pare segar dicuci bersih lalu diblender. Tambahkan
       air minum secukupnya, lalu diperas dengan sepotong kain sampai
       terkumpul sebanyak 50 ml (seperempat gelas). Perasan
       dihangatkan dengan api kecil selama 15-30 menit. Setelah dingin
       diminum, lakukan setiap hari.
    b. 200 g buah pare dicuci bersih lalu diiris tipis-tipis. Rebus dengan
       3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring,
       minum, Lakukan setiap hari.
3. Disentri.
    Buah pare segar dicuci lalu dibelah, isinya dibuang. Parut atau
    dijuice, airnya diminum. Segera minum air matang. Satu kali minum
    200 cc.
4. Disentri amuba, diare:
    Ambil akar pare yang masih segar sebanyak 30 g. Dicuci bersih lalu
    dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, tambahkan gula pasir
    secukupnya lalu diminum.
5. Cacingan pada anak:
    a. Daun segar sebanyak 7 g, diseduh dengan 1/2 cangkir air panas.
       Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk
       sampai merata, minum sekaligus sebelum makan pagi.
    b. Ambil dua sampai tiga biji pare. Giling sampai halus, aduk dengan
       sedikit air masak. Minum, disusul dengan minum air hangat.           
       Ramuan ini untuk pengobatan infeksi cacing gelang.
6. Menyuburkan rambut yang tipis dan kemerahan:
    a. Ambil segenggam daun pare, cuci bersih. Daun kemudian
       ditumbuk sampai seperti bubur, tambahkan air 3/4 gelas. Ramuan
       ini kemudian diembunkan semalaman. Pagi-pagi ramuan ini
       disaring, airnya dipakai untuk membasuh kulit kepala.
    b. Ambil daun pare yang masih segar secukupnya, lalu dicuci bersih.
       Daun pare tadi ditumbuk sampai halus, lalu diperas dengan
       sepotong kain. Airnya dipakai untuk melumas kulit kepala.
       Lakukan setiap hari. Ramuan ini terutama digunakan untuk bayi
       dan anak balita.
7. Bisul, abses:
    Ambil segenggam daun pare, cuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas
    air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.
8. Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan:
    Segenggam penuh daun pare dicuci bersih, lalu ditumbuk halus.
    Tambahkan 1 cangkir air matang, diaduk merata lalu disaring. Air
    saringannya ditambahkan sedikit garam, lalu diminum pada pagi hari
    sebelum makan.
9. Kencing nanah:
    6 lembar daun pare, 2 jari akar jayanti, 2 jari kulit kemboja, 1 jari
    rimpang temulawak, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong
    seperlunya. Rebus dengan 4 gelas


Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Pahit, dingin, Anti radang. Masuk meridian jantung, hati dan paru. Buah: Peluruh dahak, pembersih darah, menambah napsu makan, penurun panas, penyegar badan. Bunga: Memacu enzim pencernaan. Daun: Peluruh haid, pencahar, perangsang muntah, penurun panas.

KANDUNGAN KIMIA: Daun: Momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A dan C serta minyak lemak terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. Buah: Karantin, hydroxytryptamine, vitamin A,B dan C. Biji: Momordisin.

MAHONI


Mahoni

(Swietenia mahagoni Jacq.)
Sinonim :
= S. macrophylla, King. = S. mahagoni, (Bl.), Jacq.
Familia :
Meliaceae
Uraian :
Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai. Pohon, tahunan, tinggi 5-25 m, berakar tunggang, batangnya bulat, banyak bercabang dan kayunya bergetah. Daunnya daun majemuk menyirip genap, helaian daun bentuknya bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, tulang menyirip, panjang 3-15 cm. Daun muda berwarna merah, setelah tua warnanya hijau. Bunganya bunga majemuk tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. ibu tangkai bunga silindris, warnanya coklat muda. Kelopak bunga lepas satu sama lain,.bentuknya seperti sendok, warnanya hijau. Mahkota silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putih, kuning kecoklatan. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun. Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya coklat. Biji pipih, warnanya hitam atau coklat. Mahoni merupakan pohon penghasil kayu keras dan digunakan untuk keperluan perabot rumah tangga serta barang ukiran, Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
Mahagoni, maoni, moni.;

Penyakit Yang Dapat Diobati :Tekanan darah tinggi (Hipertensi), Kurang napsu makan, Demam; Kencing manis (Diabetes mellitus), Masuk angin, Ekzema, Rematik;
Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Biji, dikeringkan lalu digiling halus menjadi serbuk.
KEGUNAAN:
- Tekanan darah tinggi (Hipertensi).
- Kencing manis (Diabetes mellitus).
- Kurang napsu makan,
- Rematik.
- Demam.
- Masuk angin.
- Ekzema.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 1/2 sendok teh biji yang telah digiling halus menjadi serbuk.
CARA PEMAKAIAN:
1. Hipertensi:
    a. 8 gram biji segar diseduh dengan 2 gelas air panas. Setelah
       dingin disaring lalu dibagi menjadi 2 bagian. Minum pagi dan sore
       hari.
    b. 1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/2 cangkir
       air panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi
       hangat, lakukan 2-3 kali sehari.
2. Kencing manis:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
    panas. Diminum selagi hangat, 30 menit sebelum makan. Lakukan
    2-3 kali sehari.
3. Kurang napsu makan:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
    panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi hangat,
    lakukan 2-3 kali sehari.
4. Demam, masuk angin:
    1/2 sendok teh serbuk biji mahoni.diseduh dengan 1/4 cangkir air
    panas, lalu tambahkan 1 sendok makan madu. Diminum selagi
    hangat, lakukan 2-3 kali sehari.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA: Saponin dan flavonoida